Jeng Juminten janda judes,
jelek jerawatan, jari jempolnya jorok.
Jeng juminten jajal jualan jamu jarak jauh Jogya-Jakarta.
Jamu jagoannya: jamu jahe. “Jamu-jamuuu…, jamu jahe-jamu jaheee…!”
Juminten jerit-jerit jajakan jamunya, jelajahi jalanan.
Jariknya jatuh, Juminten jatuh jumpalitan.
Jeng Juminten jerit-jerit:
“Jarikku jatuh,
jarikku jatuh…” Juminten jengkel,
jualan jamunya jungkir-jungkiran, jadi jemu juga.
Juminten jumpa Joko, jejaka Jawa jomblo, juragan jengkol,
jantan, juara judo. Jantungnya Jeng Juminten janda [...]
Entries from May 2008
09-05-2008
“J”
09-05-2008
Hidup
Mengapa hari demikian sepi
Khusu’ berhitung detik detik waktu
Akhirnya patah jua jemariku
KEterbiasaan ini telah melumatkanku
kita lupa akan pekerjaan-pekerjaan yang bertanggung
bahkan buta siapa diri kita???
Apabila hidup selaras hidup
engkau akan senantiasa terbawa
dan bertannya kapan aku hidup
itulah hidup
Sudah lama kau mengenalku
tapi belum jua kau mengenalmu
apabila masih dapat kueja
inilah hidup
adakah engkau di balik itu
09-05-2008
Foto Yang Pertama
Kau tersenyum lagi
dalam ruang batu-batu persegi
bersandarkan pahatan patung
dan sempurna wajahmu tetap tersenyum
menyindirkan dalam kenanagan yang tersimpan
lembar-lembar foto yang menertawakan
by Sarwani
SLTPN 01 Pakel , III E 2002
untuk sahabatku, Ayu Seviani
09-05-2008
Hari Yang Senja
“Hari semakin senja
usiaku berlalu merenta
hatiku terbakar setiap saat
nafasku tersumbat sesak selalu
jantungku yang telah berdetak, ohk!!”
Zaman terlampau tua
tolong ngger,
rawat lah aku!”
by Sarwani
SLTPN 01 Pakel, IIIE 2001
09-05-2008
Wajah Sepi
Disela-sela ranting kering
Bertengker di daun layu
Menelusuri dahan lapuk
Wajah-wajah bisu
Tak sepalah desah terucap
Kesepian…. merenungi
Hanya lamunan yang tiada kembali
Menambah sukma tercacah mimpi
Jejak-jejak sunyi
Perih yang tak terlantun
Jerit yang tak terdengar
Dari duluu….
Matanya yang hampa senantiasa terbuka
Berjaga membayang trauma
Merintih nanti… bila perih datang kemabli
Untuk kesekian kali….
by Sarwani
SLTPN 01 PAKEL, IIA Maret ‘2001

Bila kita bisa memahami puisi, maka kita akan bisa membaca apa saja (baca: kehidupan). Sebab puisi tak saja terdiri dari sekumpulan kata yang mempertimbangkan keindahan bunyi dan kiasan, tapi juga menyimpan tanda-tanda yang tidak secara langsung bisa ditangkap dan dicerna pembacanya. 