Sekian lama kami menyusuri rel demi rel
Melampai batu keras
Yang biasanya menghadang
Mengdongkrak bersama
hingga tak terasa peluhpun menetes deras
Nikmat sekali rasanya
setelah batu itu kami singkirkan
Dengan bebas kami menyusuri rel demi rel bersama lagi
Bahagia bersemi
Tiba waktunya kami disambut rintangan waktu
Waktu untuk bertemu
Waktu untuk bersama membahas rasa
Hilang ditelan kesibukan masing-masing
Kami masih muda
Egoisme kami begitu kuat
Semua saling menyalahkan
Semua saling pingin [...]

Bila kita bisa memahami puisi, maka kita akan bisa membaca apa saja (baca: kehidupan). Sebab puisi tak saja terdiri dari sekumpulan kata yang mempertimbangkan keindahan bunyi dan kiasan, tapi juga menyimpan tanda-tanda yang tidak secara langsung bisa ditangkap dan dicerna pembacanya. 