Karangan fiksi tanpa dialog adalah kaku. Ya pa ndak..?
. Karena dialog itulah yang mampu membangkitkan suasana dalam sebuah karangan fiksi selain cerita latar, suasana dlsb.
Dialog juga mampu menguatkan karakter tokoh yang ada dalam karangan tersebut, malah aku bilang bisa sangat membangun sekali
Untuk karangan fiksi mungkin dialognya :
- Jangan pakai kalimat2 yang indah dan bersajak, secara jamannya udah metropolitan ya ndak??
- Hindari yang bertele-tele, tapi untuk karakter yang ragu/peragu bisa di terapkan, tapi juga gak boleh terlalu bertele-tele
- Perhatikan siapa bicara apa. Contohnya:
“Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam”
“Ini ria yahh?”‘
“Iyah buk?”
“Sudah semester berapa?”
“Semester 5″ - Sebaiknya tiap tokoh punya gaya bicara yang lain-lain
- Jangan terlalu kaku gaya narasi pengantar. Yang umum tuh biasanya “kata”,”ujar”,”tanya” dan “bisik”. Coba utnuk mengembangkan istilah ”kilah”, ”lanjut”, ”potong”, ”tebak”, ”gumam”, ”bisik”, dll.
- Dialog yang panjang itu menurutku membosankan
- Gak boleh cuma dialog saja, tapi sebaiknya di selingi sama narasi juga.
Apakah ada yang kurang yaa??

Bila kita bisa memahami puisi, maka kita akan bisa membaca apa saja (baca: kehidupan). Sebab puisi tak saja terdiri dari sekumpulan kata yang mempertimbangkan keindahan bunyi dan kiasan, tapi juga menyimpan tanda-tanda yang tidak secara langsung bisa ditangkap dan dicerna pembacanya. 
17 Comments
07-01-2009 at 9:50 am
wow, sarannya bagus2 juga yah. thx !
^0^
07-01-2009 at 3:10 pm
asyik … tak link ya web ini ke blogrollku
07-01-2009 at 3:11 pm
ok, tak link di blogroll ku ya
08-01-2009 at 1:28 am
Monggo Pak dengan senang hati…
08-01-2009 at 2:42 am
waduhhh…
gw bukan anak bahasa..
gak begitu paham…
08-01-2009 at 2:43 am
bdw dirimu alumni moklet ya?
moklet mana?
08-01-2009 at 2:45 am
@ helga : iya… malang
, meskipun bkn orang bahasa , tp berbahasa khann
08-01-2009 at 6:12 am
Saran Yang Bagus,Tapi Tiap Pengarang Punya gaya yang berbeda dalam bercerita.Lihat saja Buku Andrea Hirata Dia sangat kuat melakukan narasi dengan sedikit dialog.
But Thank’s Sarannya.
08-01-2009 at 6:15 am
@jamal e hady: buku Buku Andrea Hirata memberi nyawa baru bagi pembaca Ind, selama ini mungkin buku2 di Indo mengisahkan ttg cinta dll, tapi buku Andrea H lain… tapi unsur penulisan juga tak lepas dari hal tersebut.
08-01-2009 at 10:54 am
waddu wadduu,, repot dahh klo uda msala bhsa ..
kmren ajj ukm b.ind full feeling ..
;p
10-01-2009 at 1:39 am
beda dan kreatip…
nulis pikiran lebih sulit daripada mikir tulisan.. hahaha
butuh latihan!!! ya pa ndak… (Mbak ria mode: on)
12-01-2009 at 2:10 am
@lumansupra : betullll…. stuju akuhh
mari kita berlatih menulis
@engga : justru yang pake feeling itu yang bagus
12-01-2009 at 8:26 am
wah iki teori thok
sak jane menisan contoh
dialog yang buruk & dialog yang baik dan benar
tapi kok
Untuk karangan fiksi “mungkin” dialognya
hueheue “mungkin” juga tidak seperti contoh diatas
huehuehue
12-01-2009 at 9:45 am
di tunggu tulisan dan tips barunya
12-01-2009 at 11:36 am
Wah wah wah wah, rupanya disini toh rumah kreatif.
12-01-2009 at 12:14 pm
@ fatto : wah iki teori thok, sak jane menisan contoh => contoh di postingan lebih lanjut simak yahhh…
.. Untuk karangan fiksi “mungkin” dialognya hueheue “mungkin” juga tidak seperti contoh diatas
huehuehue => tiap pengarang punya cara sendiri untuk menggugah rasa tulisannya.
@Pak Hilal => wait ya pak….
@Dariman => iya pak dar!!! salam kenal
14-01-2009 at 6:48 am
wah bener juga neh biar tak terkesan fiksi itu kuno bahasanya
wah ,,,,, bagus