11-02-2009...3:52 am

Tubuhku Berontak

Jump to Comments

Suaraku semakin parau, serak-serak karena batuk. Lidah ini laksana mengunyah daun brotowali saja, pait sekali rasanya dan menebal. Satu minggu aku tidak melakukan aktifitas apapun, hanya makan, mandi, tidur dan benar-benar istirahat total. Bapak Ibu juga tidak membolehkan aku beraktifitas. “Sing penting sehat disik..!” nasehat Bapak. “Tapi pak…., kulo bosen!!” aku berusaha berkelit karena memang jiwaku sudah tidak tahan. Sebegitu khawatirnya Bapak terhadapku.

Sakit e mboten nemen pak…!!!, kulo mboten usah opname” sambil berbaring lemas dan masih saja menggerutu. Lipatan bosen di otakku terlalu tebal, apalagi kalau aku harus istirahat di Rumah Sakit. Diperiksa tiap 6 jam sekali, di suntik antibiotik dan obat-obat yang begitu asing di telingaku. Makan diantar, mandi dimandikan layaknya tuan putri dadakan saja. “Opo kudu ngenteni nemen sik….!!” bapak memperkeras suara, memandangku dan merapikan selimut. Aku terdiam. “Wis… sing sabar, sing penting ndang pulih!!” bergumam sambil meninggalkanku ke luar. Mungkin sedang mencari angin segar di taman Rumah Sakit.

Kupandangi tetesan air infus yang mengalir perlahan dalam tubuhku. Jernih airnya, wadahnya cembung dan memantulkan rona wajahku yang pucat. Ritme air yang jatuh dalam selang infus kurasakan senada dengan alunan dzikir hatiku. Aku mencoba sedikit menggeser punggungku yang mulai sakit. Pegal sekali. Mataku terpejam perlahan, mencari kesunyian sejenak untuk melupakan rasa sakit. Aku mencari, ternyata tak ada sedikitpun ruang itu. Aku mengikuti saja. Mendaki intisari kenapa harus sampai tergeletak disini.

8 Comments


Leave a Reply