Cerah…, begitulah suasana sore itu. Matahari hampir tenggelam, jingga di sebelah barat hanya tersenyum melihat tingkah polah kami. Menyusurui sepanjang Jl. Mawar yang dipenuhi tanaman bunga-bunga yang begitu subur. “Kita lewat jalan anggrek ya?” ujar kak Dian. “oke kak..,! kakak tau gak jalan mawar ini, jalan yang paling adik suka. Mungkin hanya jalan ini yang adik suka… soalna hanya di jalan mawar saja yang jalanannya masih rapi, ada bunga-bunganya gitu” celotehku seperti anak kecil. “hemmm, gt ya..!” pendek sekali dia mengomentari argumentku yang begitu panjang lebar.
Roda merambah dan mulai memasuki jalan Anggrek. “Dek.. aku pingin cari tahwa, karena itu lewat sini!!”kalem sekali kakak berbicara sama aku, emang seperti itulah peringainya. Tidak banyak cakap, tetapi mengerti apa yang harus dia lakukan
. Seperti dapat komando bola mataku langsung berputar, mencari penjual tahwa di sepanjang jalan Anggrek. “Gak da tuh kak…!” sahutku meyakinkan jika di jalan Anggrek benar-benar tidak ada penjual Tahwa. “hehe.. cari di dekat rumah ja dech…!!”. Sudah bisa ditebak pasti tahwa yang di deket Indomart itu.
Perjalanan menuju ke rumah tampak lenggang, tidak ada kemacetan yang berarti. Udara begitu bersaudara, sejuk.. tenang.. padahal hari itu hari Minggu, biasanya banyak orang lalu lalang menikmati liburan di kota ini. Macet itulah yang ada, memang hanya macet 15 menit, tetapi hati ini belum terbiasa dengan rasa yang ditimbulkan akibat macet itu. Rasa strowberry dongkol, rasa pisang mangkel jadi satu.
Lampu merah menghentikan perjalanan kami yang saat itu ada di jalan Manggis. Sekelibat semut datang di otak kananku, membuai angan, membentuk bayangan empat dimensi yang begitu menakjubkan. Entah datangnya darimana, mungkin karena udah lama ngiler
. ” Kak kita cari semut aja yuk..!” suaraku tak terduga. “Hah semut..!” cuma melirikku sebentar. “iya… semut yah.. ayuk ayuk..!” manja, merengek rengek seperti anak kecil. “Terus ini kemana..!” kali ini dia serius menanggapi ajakanku. “Belok kanan, ke jalan kahuripan…!”
bersambung

Bila kita bisa memahami puisi, maka kita akan bisa membaca apa saja (baca: kehidupan). Sebab puisi tak saja terdiri dari sekumpulan kata yang mempertimbangkan keindahan bunyi dan kiasan, tapi juga menyimpan tanda-tanda yang tidak secara langsung bisa ditangkap dan dicerna pembacanya. 
10 Comments
05-05-2009 at 6:39 am
hehe, rencananya mo cari Tahwa, tapi kok jadi semut? suka ya ama serabi…:)
kok nurut ya ma Kak Dian (cowok ato cewek seh mbak?)
05-05-2009 at 10:23 am
huahahaha…. iyaaa…. cukaa…..
tahwa juga suka anget2 alus. kak dian.. haha cb tbk
05-05-2009 at 4:25 pm
bagus
mau ikutan nebak boleh gak?
05-05-2009 at 5:48 pm
boyeh dunk
05-05-2009 at 4:27 pm
Hmmm… bersambung… deh cari semutnya.
salam superhangat ajah.
05-05-2009 at 5:49 pm
terimakasih pak…. iya semoga segera bisa menyambung kmbl
05-05-2009 at 7:56 pm
semut semut kecil, saia mau tanya, apakah kamu di otak ria tidak masuk angin
06-05-2009 at 3:57 pm
keren juga cerita tentang semutnya, saya juga ada cerita tentang semut di blog saya…salam kenal
09-05-2009 at 10:46 pm
Tahwa iku opo sih? Koncone tahu? :p
Pas saya baca, saya mikir tulisan ini muter-muter. Kebanyakan kata.
~sotoy…, ampuni diriku mbak m(_ _)m
09-05-2009 at 10:50 pm
Paling suka dengan kalimat ini nih, “…rasa yang ditimbulkan akibat macet itu. Rasa strowberry dongkol, rasa pisang mangkel jadi satu.”
Keren, cara menggambarkan perasaan yg unik, natural (krn ada buah2nya). Tapi, bertolak belakang ya.. strowberry kan enak.., kalo pisang mangkel boleh lah..
Langsung meluncur baca sambungannya nih..