Minggu pagi yang cerah, matahari hangat sekali, tidak begitu sakit di kulit. Tak terbayangkan jika akhirnya akan menemukan rasa bahagia yang maha dahsyat. Subhanallah….., diantara deru laju masyarakat yang bimbang memikirkan perut, menimbang waktu dengan harga mahal, menghabiskan detik-detik terakhir dengan ribuan kesenangan karena terkuras oleh deadline yang tak pernah habis, saya sempatkan untuk berkunjung di sebuah panti asuhan kecil di tengah kota Malang. Panti asuhan Nurul-Abyadh.
Di panti asuhan itu saya merasakan getaran kasih yang luar biasa. Senyum anak-anak yang mengembang membius saya pada nuansa tertentu. Candanya membungkam sebagian waktu, melewati lorong masa lalu, mengenangkan saya pada sesuatu yang telah saya simpan pada peti emas.
Allah sudah memberikan sesuatu yang lebih pada diri saya, orang tua yang lengkap, kasih sayang yang melimpah dari ibu bapak, bermanja-manjaan di pangkuan kakek nenek. Tak pernah ada ganti hitungan rupaih untuk anugerah tersebut.
Bagaimana jika saya jadi mereka? Menanti detik detik jarum berlaju tanpa hangatnya tangan orang tua. Sempat hati saya tergelitik, mendengar penjelasan pak Imam tentang keadaan panti asuhan ini. “Bapak…., saat ini saya hanya bisa menyumbang dengan tenaga dan sedikit pikiran. Doakan suatu saat nanti saya mampu memberikan hal yang lebih kepada mereka” begitulah hati saya berteriak-teriak, menggaung-gaung, menggema memenuhi seluruh relung hati saya.
“Sebagian harta kita adalah hak mereka” ini adalah hadist yang sempat Pak Imam sampaikan. Saya termenung sebentar meresapi kalimat tersebut. Terpintas dengan nasehat seorang pemimpin di tempat bekerja saya dulu, bahwa “semua yang kita miliki hakikatnya adalah titipan, pinjaman saja, kita tidak memilki apa-apa”.
Saya sedikit terperanjat ketika seorang ibu yang duduk di samping saya men”njawil” bahu saya. “Jeng… tolong microphonenya” sapanya pelan. “Oh… injih bu” sahut saya seraya memberikan microphone. Beliau adalah seorang pengajar di sekolah farmasi di kota ini, dia juga pengisi acara jendela hati di RRI kota Malang. Dari gaya bicaranya “hemm” mengimpan semangat yang luar biasa. Menyoroti setiap tingkah polah panti asuhan ini, memberikan dorongan kepada para uztadah agar lebih ngajeni lan ngopeni terhadap apa-apa yang ada di sini.

Bila kita bisa memahami puisi, maka kita akan bisa membaca apa saja (baca: kehidupan). Sebab puisi tak saja terdiri dari sekumpulan kata yang mempertimbangkan keindahan bunyi dan kiasan, tapi juga menyimpan tanda-tanda yang tidak secara langsung bisa ditangkap dan dicerna pembacanya. 
21 Comments
15-06-2009 at 2:53 pm
maka sisihkanlah 2,5% dari penghasilanmu.
Sudahkah dilaksanakan ?
salam superhangat
15-06-2009 at 3:08 pm
..senyum..
.
mari berbagi,
jangan lupa sarapan ….
15-06-2009 at 6:28 pm
@cenya : betul pak
@komuter :
15-06-2009 at 11:38 pm
emang benar harus banyak sodakoh
16-06-2009 at 6:21 am
heheheh, pengalaman yang asyik
mbak udah aku link di page/tukar link
thanks ya
16-06-2009 at 10:27 am
liat mereka senyum itu menentramkan, apalagi kalo senyum itu karena kita….. euuughhh rasanya indah bener
16-06-2009 at 11:08 am
sahabatku
indah sentuhmu
berbagi tanpa tepi
kunjungi http://miejanda.com
16-06-2009 at 11:53 am
@kawanlama: iyah kawan
ke monggo
@blogger senayan
@ontohod : benar mas onto
@achoey ; wedew mie jandanya udah punya rumah sendiri…. com lagiii… mantabbbb
16-06-2009 at 12:28 pm
tergugah mendengarnya.
semoga mereka selalu mendapat tempat yang layak di sisi allah.
16-06-2009 at 12:33 pm
“Bagaimana jika saya jadi mereka? Menanti detik detik jarum berlaju tanpa hangatnya tangan orang tua” saya suka kalimat ini sangat mengena..:-D
-salam- ^_^
16-06-2009 at 4:51 pm
saya pun ikut termenung membaca tulisan ini…
jadi ingat, sudah lama hidup saya tidak diwarnai oleh panti asuhan…
16-06-2009 at 5:45 pm
kadang kita itu lupa pak….. seakan2 apa yang kita dapat itu masih belummmm cukupppp ja…. padahl menuju cukup gak ada batasannya
16-06-2009 at 5:03 pm
sedekah dapat meringankan rejeki kita…
sedekah juga bisa melapangkan rejeki kita…
banyaklah sedekah….
saling berbagi itu indah…
salam kenal
17-06-2009 at 12:04 am
senyum mereka selayaknya melunakan hati dan membakar semangat kita.
17-06-2009 at 8:58 am
menyadarkan betapa enaknya diriku
17-06-2009 at 12:20 pm
@suwung : iyahhh
@acha : betul acha
@mw: berbagi begitu indah
17-06-2009 at 5:44 pm
Nice post,
Betapa keberuntungan kita masih sangat kurang disyukuri. Seringkali kita terlalu melankolis pada diri sendiri.
Jalur aktualisasi rasa syukur, salah satunya dinyatakan dalam perbuatan riil, yaitu memenuhi kewajiban mendermakan harta sesuai garis agama.
Ada hak orang lain dalam harta dan kemampuan yang dititipkan, maka kewajiban kita untuk menyampaikannya.
InsyaAllah, tiada yang berkurang, kecuali berkurangnya dosa kita.
18-06-2009 at 11:19 am
betul mas adhi….. piye kabare sampyn? ini mas Adhi Listiyono bukan???
salam semangat selalu
18-06-2009 at 4:44 pm
Adhi Listiyanto mbak Ria. Kabar, .. Alhamdulillah sehat. Sudah mulai aktivitas mengajar ? Salam sukses buat mbak Ria
20-06-2009 at 7:36 pm
Makasih Mbak….
Saya jadi inget belum menyisihkan zakat untuk bulan ini.
20-06-2009 at 7:39 pm
@ mas agung : iya sama-sama
@mas Adhi L : alamdulillah sudah….. sukses juga buat sampyn… oh iya maaf ADI LISTIYANTO