Seperti mimpi terakhir bertemu denganmu
Aku mencoba untuk tersenyum
Waktu kau bilang “kamu pasti bisa mandiri sendiri”
Adalah sebuah ironi
Ironi yang menjadi kiasan kata “berhenti sampai disini”
“Lupakan kenangan kita”
Aku tersenyum kembali
Sebuah coklat kulumat untuk menahan tetesan air mata
Jangan sampai engkau sedih melihat air mataku
Sengaja kumenundukkan muka…
Mencari kesunyian sekejab
Membuang jauh mimik gundah
“Berpisah untuk selamanya”
Seperti mimpi aja rasanya
Secepat kilat ku ingin tersadar
Bukannya hilang tapi tak mau pudar
Sekiranya logika ini tak kuasa menembus rasa
Di dalam pelukmu tetes air mataku mengalir
Mengalir bersama peluh kerinduan
Segera kuhapus… dan tersenyum kembali
Tanganku erat mencengkeram
dan “Jangannn……. menjauhhhh”

Bila kita bisa memahami puisi, maka kita akan bisa membaca apa saja (baca: kehidupan). Sebab puisi tak saja terdiri dari sekumpulan kata yang mempertimbangkan keindahan bunyi dan kiasan, tapi juga menyimpan tanda-tanda yang tidak secara langsung bisa ditangkap dan dicerna pembacanya. 
2 Comments
17-11-2009 at 10:39 pm
berkunjung kembali setelah sekian lama tak menengok ternyata ada puisi yang indah
05-12-2009 at 8:46 am
kulanuwuuunn… macam mana pula? awak tak tahu ke? saye nak ingin cakap sual kepelikan hidup…!