Seperti mimpi terakhir bertemu denganmu
Aku mencoba untuk tersenyum
Waktu kau bilang “kamu pasti bisa mandiri sendiri”
Adalah sebuah ironi
Ironi yang menjadi kiasan kata “berhenti sampai disini”
“Lupakan kenangan kita”
Aku tersenyum kembali
Sebuah coklat kulumat untuk menahan tetesan air mata
Jangan sampai engkau sedih melihat air mataku
Sengaja kumenundukkan muka…
Mencari kesunyian sekejab
Membuang jauh mimik gundah
“Berpisah untuk selamanya”
Seperti mimpi aja rasanya
Secepat kilat ku [...]
Entries Tagged as ‘Puisi’
03-11-2009
Terakhir
30-09-2009
Berserah
Ketika pembangunan ini berhenti
Bata air mata
Semen doa
Pasir kesetiaan
Tercecer…..
Aku termenung di sudut ruang
Ya Allah akankah ini terhenti
26-08-2009
Penggembala Domba
kemarin aku ke lapang
membawakan secangkir teh untukmu
pelepas dahaga
periang suasana
ribuan kali ku pangkil engkau
penggembala…..
penggembala…..
kau tetap asik bermain dengan dombamu
ku tunggu kau di bawah pohon rindang
siapa tau kau akan datang
tetapi kau tetap saja diam
tak beranjak
tak pula balik pandang
hingga sebuah kereta kuda datang
menjemputku untuk kembali pulang
seutas tali kutinggalkan untukmu
di bawah pohon mungkin kau tau
sebagai tanda aku pernah disitu
17-08-2009
Tarik Menarik
Tarik kanan
Tarik kiri
Seperti tarik tambang
Dan lama-lama yang ditarik lelah
Tarik kanan ingin ku ikuti tetapi belum mampu
Tarik kiri ku rasakan tetapi tak bergetar
Seperti berputar pada nampan
Dan lama-lama yang ditarik pusing
Tarik kanan ada dilema
Tarik kiri ada sanding
Yang memiliki dilema belum bisa sanding
Yang ingin bersanding mempunyai dilema
Tarik kanan tarik kiri
Kuikuti teriak hati
Beradu sampai akhir nanti
Petunjuk jalan illahi
11-08-2009
Koyak
Katak kusukkuOlok kata-kata kakKini katakkuKutuk anak-anak kakakKelak otakkuKepala kapakHendak elak konakkuPasti koyak
30-07-2009
Tuan Kepala
Tuan halang tangan kotormu untuk menang
Biarkan kami belajar dengan tenang
Jangan kau bungkus kami dengan selimut rupiah
Yang membuat hati kami semakin resah
Tuan ilmu ini akan barokah
Jika landasan kami solihah
Menjadi tumpuan masa depan gemilang
Bersendung kesuksesan berulang – ulang
Jangan bebani kami dengan air bah
Yang berani mati sampai tumpah
Demi ilmu pengukir hati
Yang akan kami bawa hingga mati
Lihatlah kami yang [...]
15-07-2009
Pagar Betis
Penjaga 24jam yang tak pernah mati.
Semangatnya membuih penuh.
Seperti api yang tersiram minyak tanah.
Menyelimuti segumpal daging yang bernama hati.
Antivirus untuk rasa yang belum halal jadi miliknya.
Memfilter signal yang benar-benar tulus menyandingnya.
Pengingat hati agar selalu melantunkan doa kepada pemilik rasa.
Mengantarkan kepasrahan atas kehendakNYA tiada batas.
27-06-2009
Ramadhan Datang
Elok emas tiada berkarat
Karat murni dua puluh empat
Sirine ramadhan mulai mendekat
Rekatkan barisan rapat-rapat
Bentang sajadah tiada terhenti
Bisikkan dzikir berkali-kali
Bersihkan raga jiwa ini
Suci bersih tiada terperi
Hati berpeluh tiada sembuh
Karena iman enggan tumbuh
Ramadhan datang membawa teduh
Obati hati yang tiada tersentuh
Gambar dari : http://natumarta.wordpress.com

Bila kita bisa memahami puisi, maka kita akan bisa membaca apa saja (baca: kehidupan). Sebab puisi tak saja terdiri dari sekumpulan kata yang mempertimbangkan keindahan bunyi dan kiasan, tapi juga menyimpan tanda-tanda yang tidak secara langsung bisa ditangkap dan dicerna pembacanya. 