14-08-2009

Sari lagu “Tak Gendong”

Unik…., lagu ini unik sekali, ketika terdengar di telinga saya beberapa bulan yang lalu. Lagu ini diciptakan oleh mbah Surip seorang Jawa Timuran asli dari Mojokerto.Mbah Surip menciptakan Tak Gendong  pada tahun 1983,  pada saat beliau ada di Amerika Serikat.

Suatu hari saya pernah melihat  konser mbah surip  di salah satu stasiun TV, kebutulan saat itu ada salah satu presenter yan g menanyakan “ Mbah…. sebenarnya makna lagu ini apa?”

Sambil menyibakkan rambutnya yang khas mbah Surip mulai cerita dengan seksama. “Maksudnya tak gendong itu, seperti halnya angkutan umum, bis, angkot dia tidak peduli mengangkut siapa saja yang terpenting sampai pada tujuan. Baik itu penumpangnya  jahat, nakal semua tanpa terkecuali. Iya to ha.. ha.. ha. Ha..” Tawa khasnya mengakiri menjelasan yang begitu singkat.

Liriknya seperti ini:

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk

Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to

Enak to, mantep to
Ayo.. Kemana
Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana

Enak tau
Where are you going?
Ok I’mWhere are you going?

Ok my darling
Ha…Ha…
Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana

Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik taxi kesasar
Mendingan tak gendong to

Enak to, mantep to
Ayo.. Mau kemana
Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana

Enak tau
Where are you going?
Ok I’m
Where are you going?
Ok my darling

Ha.. Ha…
Tak gendong kemana-mana
Enak tau
Ha.. Ha…

Ha.. Ha…
Ha.. Ha……
Capek…..

11-08-2009

Koyak

Katak kusukku
Olok kata-kata kak
Kini katakku
Kutuk anak-anak kakak
Kelak otakku
Kepala kapak
Hendak elak konakku
Pasti koyak

30-07-2009

Tuan Kepala

Tuan halang tangan kotormu untuk menang
Biarkan kami belajar dengan tenang
Jangan kau bungkus kami dengan selimut rupiah
Yang membuat hati kami semakin resah

Tuan ilmu ini akan barokah
Jika landasan kami solihah
Menjadi tumpuan masa depan gemilang
Bersendung kesuksesan berulang – ulang

Jangan bebani kami dengan air bah
Yang berani mati sampai tumpah
Demi ilmu pengukir hati
Yang akan kami bawa hingga mati

Lihatlah kami yang terombang ambing
Kenapa tangan tidak jua membimbing
Mengeluarkan isi peti kebahagian
Bersama-sama kita sampai tujuan

21-07-2009

Tak Asing

Begitulah yang dirasa Reina dimalam itu, kala rembulan merajuk dengan lembut, hati Reina tetap saja
gelisah. Bahkan kegelisahan itu hampir menjatuhkan air matanya. Ada percikan api yang tertahan keluar karena jaket lapis air yang rapat menutupi.

Burung hantu menari di ujung ranting dahan pohon mangga, matanya awas seperti peronda malam yang mencari maling ayam dengan diam-diam. Tetapi mata burung malam yang tajam itu tak mampu menolehkan pandangan Reina dari bayangan semburat wajah yang begitu ia kenal. Bukan SKSD…., tapi hati itu, sosok itu seperti tidak asing di sepanjang perjalanan hidupnya. Ia masih saja termangu di balkon kamar tidur dan hanya sekali-kali menyapa rembulan.

Reina menarik nafas panjang dan dalam, menghembuskannya pelan dan menyadari apa yang terjadi. “Ya Allah…., apa yang terjadi pada diriku” gumamnya dalam hati. “Kekuatan apa ini. Kenapa begitu mudah bahkan tanpa berfikir panjang langkahku mengikutinya” rintihan hati Reina begitu dalam. “Ampuni segala dosaku ya Allah..!” kakinya mulai meninggalkan balkon dan mengarah ke kamar mandi. Reina membasuh mukanya dengan kesejukan air wudhu. Tak terasa air matanya meleleh. Mulutnya komat kamit mengucapkan istiqfar tiada henti.”Astaqfirullah hal’adzim… aku takut melupakanMu ya Robb….!”

Ia hampiri sajadah dan mukena di dalam almari, dibentangkannya pelan-pelan hingga sempurna “Ya Allah… Astagfirullah…!” dia terbelalak seraya menutup muka dengan kedua telapak tangan yang telah tersiram dengan air wudhu. Bayangan wajah itu ada di bentangan sajadah. Tersenyum, seakan akan menyapanya pada frekuensi tertentu. Dia menangis bersimpuh dan menutup kedua matanya rapat-rapat. Air matanya menetes kembali. Hati Reina bergetar hebat. “Ya Robb.. jika rasa ini dariMU, jika getaran ini anugerahMU tak akan ada yang mampu menghalangi” dia membenamkan mata, hati dan pikirannya pada lautan kesejukan Illahi yang tiada batas.

15-07-2009

Pagar Betis

Penjaga 24jam yang tak pernah mati.
Semangatnya membuih penuh.
Seperti api yang tersiram minyak tanah.
Menyelimuti segumpal daging yang bernama hati.
Antivirus untuk rasa yang belum halal jadi miliknya.
Memfilter signal yang benar-benar tulus menyandingnya.
Pengingat hati agar selalu melantunkan doa kepada pemilik rasa.
Mengantarkan kepasrahan atas kehendakNYA tiada batas.

04-07-2009

Kelembutan Kawabata Yasunari

Yasunari_KawabataSosok Kawabata Yasunari adalah nafas baru bagi dunia sastra Jepang. Dia membawa rasa yang berbeda dari karya-karya sastra yang sudah ada. Kemampuannya dalam menuangkan kata mempunyai kadar sensibilitas estetik yang begitu lembut. Hingga banyak sekali sastrawan dunia selanjutnya yang bercermin padanya seperti Gabriel Garcia Marquez.

Melalui tulisannya, dunia mengenal tokoh Matshuo Basho. Berbagai macam nobel sastra berhasil dia dapatkan dari hasil tulisannya. Karya sastranya antara lain: Gadis Penari dari Izu (Izu no Odoriko 1926), Negeri Salju (Yukiguni 1935-1937, 1947), Empo Go (Meijin 1951), Seribu Burung Bangau (Senbazuru 1949-1952), Suara Gunung (Yama no Oto 1949-1954), Danau (Mizuumi, 1954) dan rentetan karya sastra yang lain yang menambah keriputnya begitu tampak jelas, tetapi tetap bersahaja.  Selain menulis dia juga bekerja sebagai wartawan salah satunya di Mainichi Shimbun di Osaka.

Kawabata Yasunari lahir pada tanggal 14 Juni 1899 di Osaka Jepang. Jika melirik tanggal lahirnya pastilah dia telah melewati masa-masa perang dunia satu dan perang dunia dua dimana negara Jepang juga turut andil dalam kemelut dunia tersebut. Bahkan bisa dibilang seluruh tulisannya adalah pengaruh dari Perang Dunia 1 dan Perang Dunia 2, karena kejadian tersebut membuat sebagian besar keluarganya meninggal dunia.

Pada usia ke 72 tahun tepatnya pada tanggal 16 April 1972 Kawabata Yasunari meninggal di karenakan bunuh diri. Tidak ada hal-hal yang ditinggal yang bisa menjadi petunjuk atas kematiannya. Praduga yang dikemukakan tentang penyebab kematian penulis terkemuka ini masih menjadi tanda tanya yang besar.  Kemungkinan Kawabata meninggal seperti kesehatan buruk, putus cinta bahkan ada yang mengemukakan Kawabata mati karena keadaan spikologinya shock atas kematian sahabatnya Yukio Mishima yang disebabkan bunuh diri.

gambar dari : http://www.asiaobserver.com

02-07-2009

Terima kasih

kindlyblogger2009

ucapan terimakasih terucap
pada cenya blogger mantab

atas award yang diberikan
akan selalu jadi kenangan

harum blogger makin ramah
tak luput mata yang menjamah

ribuan kasih ucapan hati
award ini juga untukmu blogger sejati

Terimakasih buat cenya atas Kindly Blogger 2009 Awardnya, semoga bisa memberikan rasa keakraban antar blogger. Blogger cenya memang patut di acungi jempol dengan kualitas postingannya dan ke-istiqomahan dalam menulis. Award ini juga saya persembahkan untuk temen-temen yang baru saja berkunjung di tulisanria. Semoga bisa menambah rasa silahturahmi. Amin…..
1. javanese 02-07-2009 at 11:09 am
2. newbiedika 02-07-2009 at 8:07 am
3. D3pd 01-07-2009 at 8:15 pm
4. Saka 01-07-2009 at 6:12 pm
5. blogger senayan 01-07-2009 at 8:11 am
6. agungfirmansyah 22-06-2009 at 7:45 pm
7. dariman 27-06-2009 at 9:45 pm
8. irawan 25-06-2009 at 6:25 pm
9. jidat 24-06-2009 at 1:40 pm
10. Acha 23-06-2009 at 2:31 pm

27-06-2009

Ramadhan Datang

ramadhan

Elok emas tiada berkarat
Karat murni dua puluh empat
Sirine ramadhan mulai mendekat
Rekatkan barisan rapat-rapat

Bentang sajadah tiada terhenti
Bisikkan dzikir berkali-kali
Bersihkan raga jiwa ini
Suci bersih tiada terperi

Hati berpeluh tiada sembuh
Karena iman enggan tumbuh
Ramadhan datang membawa teduh
Obati hati yang tiada tersentuh

Gambar dari : http://natumarta.wordpress.com