Endorsement

Kali ini saya ingin posting tentang endorsement.  Setelah membaca di surya tentang “Membeli Buku karena Endorsement” hehehe inget kejadian yang pernah saya alami sendiri. Seperti biasa karena weekend tanpa acara, waktu saya habiskan buat konkow di Togamas atau ke Gramedia. Tidak membeli buku, sekedar iseng ajah kadang.

Lihat buku bersampul hijau bagus sekali. Saya hampiri. Saya bolak balik. Design sampulnya bagus.Di halaman sampul belakang ada beberapa testimoni. Saya menyebutnya testimoni karena belum tau kalau tulisan yang merupakan ungkapan seseorang untuk sebuah buku itu disebut endorsement. Saya baca satu per satu. Testimoninya dari orang-orang terkenal, baik dari orang-orang politik, artis, penulis terkenal juga dan beberapa jurnalis. Isi dari testimoni mereka memuji bahwa buku ini BAGUS, cocok dijadikan referensi. Akhirnya saya berniat untuk memebeli buku tersebut. Saya berfikir  “Pasti isinya bagus, la wong  politisi, artis, penulis terkenal dan jurnalis2 ni aja bilang bagus, penilaian mereka pasti tidak salah, mereka lebih berpengalaman“. Sesampai di rumah saya mulai membaca buku tersebut dari awal hingga akhir. Saya merasakan ada hal yang kurang dari buku ini,  garing,  kurang menyentuh. Kekuatan dari tema kuranngg…. uhhh hemm kurang nonjok kali ya.. ;). “kok ndak sesuai dengan testimoninya ya…”
ungkapan dalam hati saya.

Saya menawarkan buku ini kepada teman-teman untuk membacanya, kemudian mendiskusikan di saat kita lagi senggang,  apakah yang mereka rasakan setelah membaca buku ini? Ternyata sama buku ini kurang menyentuh, “ora nduwe greget” itu bahasa jawanya.

Dari kejadian tersebut saya mencoba mengambil kesimpulan, ternyata endorsement yang ada pada buku-buku belum tentu benar. Apalagi kalau endorsement tersebut seakan-akan mengagungkan buku itu, kalo endorsement masih merujuk kepada ringkasan cerita atau sinopsis dari buku tersebut,  itu lumrah dan saya masih setuju.  Saya jadi bertanya-tanya sebenarnya adanya endorsement itu dibuat-buat atau bagaimana sih???