Di Ruang Itu

Udara kembali bertiup semilir, dinginnya menerobos tulang, mendung kelabu tetapi birunya masih tampak, menuangkan kesan di pikiranku bahwa tidak semua mendung berwarna kelabu, masih ada mendung yang berwarna biru berarti masih ada harapan untuk menerobos masa depan yang gemilang. Aku kembali meliriknya dan berdehem saja.

Kejadian di ruang meeting siang tadi membuat hatiku semakin kaku, bisu dan ndak tau mau ngomong apa. Aku mengerti bagaimana perasaan dan pikiran tiap orang di ruang meeting tadi. Mungkin sama….! Kata pamit dari pak Bauhari, adalah cambuk besar bagi organisasi ini mengingat pak Bauhari adalah motivator sekaligus aktifis yang selalu memancarkan semangat. Semangat itulah yang menular kepadku sehingga aku bisa berada disini sekarang. Kalo percikan semangat itu hilang untuk selamanya, apa kita masih bisa bertahan menghadapi segala polemik dan carut marut yang ada? Sebenarnya bukan hanya Pak Bauhari yang keluar, tapi juga pak Udin dan pak Ibnu Fadil. MasyaAllah mungkin sekarang ini Semantra sedang merasakan sakit yang berkepanjangan… ibarat tubuh kulit yang selalu merespon jika ada tanggapan dari luar sudah mengelupas, kepalanya hilang, dan tangan kanannya di amputasi. Aku yang baru lahir dari Semantra juga ikut merasakannya. Apalagi yang punya tubuh Semantra ini.

Segera kukemasi barang, mengambil kunci motor dan pulang. Ingin rasanya cepat-cepat menghempaskan diri ke muara kasur kamar kos-an, terbenam dalam selimut hangatku. Jika ingat selimut itu, selimut hangat tebal yang diberikan oleh Pak Bauhari saat aku berhasil meraih predikat pemenang pada kompetisi lomba desain yang di adakan di seluruh kota Malang. Kenangan yang tak akan pernah terlupakan.

Dialog hatiku bubar, aku di ingatkan oleh tumpukan tugas kuliah yang tercecer dan harus kuserahkan ke Pak Dodot sekarang itu juga. Semoga beliau ada di kampus tercinta. Motorku mulai menjamah aspal, melaju dengan kecepatan 40km/jam mengarah ke Jl. Adi Sucipto. Aku bertarung dengan asap motor yang lalu lalang di sepanjang jalan yang biasa aku tempuh. Menambah rasa ngilu di otakku. Huh…..!

9 thoughts on “Di Ruang Itu

  1. coba sekali2 nek ngomong kro aku nang kampus nggawe bahasa sastra koyok ngene…. lak luweh seru tha, gak rugi aq nyeluk asmamu sesuai jeneng blog mu…

    — masboim
    *sedang memindahkan kenangan buruk tentang cinta, dan menguncinya rapat-rapat agar dapat kembali menerima cinta yang lain *halah*

  2. Pingback: Majas Personifikasi « Goresan Tinta Sepanjang Masa

  3. sabar ya ria…
    ketika ada orang yang pergi, pasti akan datang orang yang baru, walo tdk sama… tp selalu bagitu.. that’s life…🙂
    tetep semangad😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s