Surat Ini Untukmu Part 2

“Kamu kenapa Ne?” Jebol pula pertahannya untuk menahan dilemma pertanyaan, tak kuat dia melihat aku, teman satu kos, satu kota, satu bangku pagi-pagi termenung sendirian di depan meja seterikaan. Memang kursi di depan meja seterikaan yang berada di serambi lantai dua adalah koordinat paling pas untuk melepaskan busur risau hati. Serambi yang menghadap selatan tepat berhadapan dengan samping sekolah kami itu, selalu diintip matahri dari balik tembok, gunung yang hijau ikut memeriahkan pemandangan dari serambi kos kami. “Tut.. dua minggu dia tidak menghubungiku sama sekali…, aku harus bagaimana…? “ Gelisahku meluap. “Kamu kangen dia yaaa Ne? Hihihi” sambutnya sambil menggoda. Aku tertunduk, tak kuat mengangkat kepala rasanya. “ Hemm iya, aku bingung kenapa sampai selama ini dia tidak menghubungi aku” masih merunduk, mengukur rasa gelisah dan menghitung semut yang rapi berbaris. “Loh… ya dihubungi tho Ne? Kalo jaim-jaiman mana bisa nyambung. Sudahlah hubungi saja mungkin selama ini dia lagi sibuk. Ayo cepetan berangkat, hari ini Senin kita kan jadwal piket upacara bendera di sekolah” Gumam evi memberikan kompromi kegelisahan hatiku.

Kami berangkat bersama, jam menunjukkan tepat pukul 5.45 WIB. Jam enam tepat gerbang ditutup. Tidak ada toleransi x y z untuk siswa yang terlambat. Untungnya kosan kami tetanggaan dekat dengan sekolah.

3 thoughts on “Surat Ini Untukmu Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s