Bahasaku Menangis Menerima Tantangan Teknologi

Mencoba untuk mengupas berdasarkan pengalaman sendiri.  Seperti apa peranan bahasa Indonesia dalam perkembangan dunia teknologi. Kita ketahui bahwa ilmu teknologi khusunya teknologi  informasi sebagian besar di ambil dari negara barat, karena merekalah yang menciptakannya dan yang memiliki idenya.

Penyerapan ilmu tekonolgi dari barat berdampak pada banyak sekali munculnya kata-kata asing dalam kamus besar bahasa Indonesia. Kenapa bahasa kita harus mencuplik  bahasa asing? Sebegitu keringkah perbehendaraan kata pada bahasa kita untuk memaknai istilah-istilah teknologi.

Selain kering perbehendaraan kata untuk mengartikan istilah teknologi, bahasa kita juga kurang efisien dalam penyebutan istilah, misalkan: home = halaman depan, untuk arti yang sama pada bahasa Inggris hanya menggunakan 1 kata dengan 1 suku kata (home baca “hom”). Simple, ringkas sekali bukan? Sedangkan untuk bahasa Indonesia membutuhkan 2 kata dengan dengan 5 suku kata (halaman depan baca “ha-la-man-de-pan”).

Kekurangan ini sedikit memberi kendala bagi para pelaku teknologi. Jika mereka ingin membuat sebuah produk yang benar-benar memakai bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia kurang efisien akhirnya harus mengadopsi kata-kata dari luar. Apabila produk tersebut hanya satu bahasa mungkin kekurangan tetnang bahasa tersebut tidak begitu terlihat. Tetapi bila kita membuat produk dengan dua bahasa akan begitu jelas terlihat kepincangan pada bahasa Indonesia.

Walaupun begitu kebanggaan para pelaku teknologi terhadap bahasa Indonesia patut di acungi jempol. Banyak di antara mereka yang berlomba-lomba membangun produk yang bener-bener berbahasa Indonesia. Seperti Sistem Operasi para komputer dengan bahasa Indonesia.

23 thoughts on “Bahasaku Menangis Menerima Tantangan Teknologi

  1. Bener sekali ria… kita perlu prihatin saja pada mereka yang kurang peduli dengan BahasaIndonesia, meskipun kalau kita mau sedikit bersusah payah mungkin ada kata2 bahasa indonesia yang efisien misal home (halaman depan) bisa diganti dengan kata “Beranda”

    meskipun seperti yang Ria katakan memang kosakata dalam bahasa indonesia yang kurang efisien terutama soal imbuhan kata, coba aja kita menterjemahkan kalimat baku kedalam bahasa inggris dengan Transleter pasti kata yang berimbuhan nggak tertranslate….

  2. Bener Mbak. Ilmu pengetahuan, terutama teknologi, sampe saat ini masih berpusat di Amerika. Oleh karena itu, bahasa ilmunya pun bahasa Inggris.

    Saya pribadi pun, yg belajar teknologi informasi, sering merasa geli2 sendiri kalau baca buku diktat kuliah yang berbahasa Indonesia. Terjemahannya terasa aneh di telinga. Insya Allah, suatu saat nanti akan ada nama-nama benda seperti penghitung (komputer), alat dengar(headset), dan sejenisnya.😎

  3. wah sebenernya kalo menurutku itu semua tergantung dengan kebiasaan kita aja🙂, kemarin di forum fresh (salah satu forum offline dari hasil pertemanan online) sempat ada topik yang membahas tentang topik ini. Saat ini wikipedia indonesia sedang mencoba untuk memadankan bahasa-bahasa asing dengan bahasa Indonesia.
    Memang pada awalnya terasa aneh dan banyak yang lucu, tapi kembali lagi, ini semua tentang kebiasaan😛 *siap2 di serang :D*

  4. ah-hah… ulasan yang menarik, jeng… saya sendiri merasa bahwa istilah serapan dipakai oleh sebahagian orang dikeranakan terdengar begitu modern. “network”, mereka bilang. namun saya lebih menyukai bunyi “jejaring”, dan seperti yang dituliskan oleh suklowor; “home” bagi saya lebih indah didengar apabila diterjemahkan sebagai “beranda”.

  5. Serap menyerap dalam bahasa sering terjadi. Di sini lah peran lembaga bahasa untuk menentukan bahasa yang digunakan dan diIndonesiakan. Namun tampaknya masih menemui kendala.

    Salam superhangat.

  6. @suklowor : bener mas….. saya setuju sekali……
    @agung : semoga amin amin
    @dariman : iya budaya kita sepertinya juga mau kehilangan arwah….. kita sendiri yang punya malah ndak tau
    @achoey : aminnn semoga… segera
    @podelz: aku lebih setuju kalo membuat bangsa lain membiasakan bahasa kita “””huihhh idealisme yang lebay
    @infinite : iya saya juga lebih baik memakai itu… tapi kadang ada kata2 yang begitu rumit untuk di artikan dengan bhs indo
    @cenya : salam balik pak…. besuk saya segera mamapir untuk melihat postingan sampyn. tq banyak

  7. Dengan jumlah penduduk yang besar, juga jumlah bahasa daerah yg banyak, bahasa Indonesia berpeluang menjadi bahasa yg paling banyak dipakai di dunia.
    Tugas kitalah untuk mencipta kata dlm bahasa Indonesia sesuai dgn keilmuan yg kita pahami dan kita geluti.
    1 hari 1 kata per 1 orang dewasa, maka dalam setahun KBBI akan terdiri dari berapa jilid ya?
    Hehe.. imajinasi..😀

  8. bahasa kadang memang terlihat seakan akan tak berharga bagi kita, namun terkadang bahasa itu juga bisa mejadi tombak bambu runcing yang bisa mejadi pertahanan kita untuk mempertahankan diri kita dari belenggu penjajah yg sedang menghantui

  9. postingan yang bagus banget.. memang klo kita masuk di dunia teknologi, rasanya kita ‘tidak sedang berada di Indonesia’.. sulit memang karena si ‘pembuat teknologi itu ada di luar sana..’

    oya rhe, saya bagi-bagi award lo..klo sempet dan ikhlas (hehehe….), awardnya dikerjain ya…

  10. Setuju mba! empat jempol..

    mungkin krn kita bukan seperti orang jepang yang jaim untuk belajar bhs inggris.. jadinya orang amerika lah yang bela2in bhs jepang.. hasilnya apa? bahasa jepang jadi salah satu bahasa penting di dunia.

    salam kenal yaa..🙂

  11. ‘ketidak efektifan’ itu sejatinya anda sendiri yang membuat nya bukan hehehe. kenapa home diartikan ‘halaman depan’. bukan kah ‘home’ itu rumah? dan ‘halaman-depan’ dalam ejaan english frontpage?

    oia kenalan dengan blog baru ya *nyodorin tangan* kok diem ce salaman donk. ditunggu kunjungan balik dan komentarnya terutama dalam tulisan manjakan mata, telinga dan waktu anda dengan samsung LED TV. awas lho kalao engga berkunjung tak jithak pakai tiang listrik wakakaka *kabuuurr *ngumpet

  12. sejujurnya menjadi betigu nyaman untuk bangsa kita jika bahasa teknologi adalah bahasa kita. tapi tidak mengapa juga jika ternyata tidak demikian. tapi yakinlah, apapun bahasanya, dan apapun kendalanya, semua bisa dipahami dan dikuasai.

    salam kenal dari perry, ni skalian tukeran link y… ni ta tempel duluan di ‘rumah saya’. terimakasih….

    posting yang menarik ngomong-ngomong…..

  13. he eh mas…
    apalagi jaman sekarang makin maju…
    tekhnologisekarang kebanyakan menggunakan bahasa asing…
    sehingga mau tidak mau kita harus bisa bahasa asing juga…
    tapi kita juga jangan melupakan bahasa kita sendiri ya mas…
    kita jga harus membiasakan diri meggunakan bahasa yang baik dan benar,bukan bahasa nyeleneh gitu ya mas…

    nice post mas…
    lam kenal juga ya mas…😀

  14. @acha: bisa juga seperti itu…..!
    @gabon: iya penjajahan modern, lewat bahasa, budaya dan
    teknologi sebenarnya kita sedang di jajah
    @ceuceu : aku belum sempet ke ceu ceu niee…. maaf yahhh
    @chryssanti : betul mbak… yang saya maksud disini adalah seperti yang mbak pikirkan
    @gadget : emmm…. kenalan balikkk…!!!
    @perry : terimakasihhh
    @pib : salam kenal balik…. ini mbak…, bukan mas
    @zoel : seperti itulah😦

  15. bahasa indonesia memang nnyariss punah saat ini. penggunaan EYD sudah tidak diindahkan,
    orang malah lebih suka pakai bahasa yang kebarat2an, dan seolah2 sok bahasa gauL
    padahal itu sebenarnya “pekok”

  16. @irawan : itu hanya sebuah kiasan sajah pakk…
    @ciwir : betul kata sampyn mas….😦, miris memang kalo melihatnyaa….. tapi kita yang punya tak pernah sadar.

  17. Sebenarnya bahasa tidak menjadi masalah kok.Bahasa apapun bisa digunakan dalam IT,tentunya bahasa baku dan benar sehingga jika diterjemahkan kedalam bahasa apapun bisa dan benar.Coba sepatu rusak diganti sepatu butut,trus masukkan ke Google translation,keluaranya adalah :shoe butut. Kata butut tidak dikenal dalam bahasa Inggris.
    Nggih napa mboten cah ayu?
    Salam dari pakde Surabaya.

  18. Apa boleh buat. Bahasa teknologi dalam bahasa Indonesia merupakan salah satu ragam yang harus diterima. Bahasa teknologi (dari bahasa apa pun asalnya) selayaknya harus dapat kita terima sebagai kekayaan bahasa.
    Hal yang paling penting kita pertahankan adalah bagaimana kita mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik sesuai dengan konteks yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
    Jadi, kita tidak perlu menangisi kondisi pengguna bahasa Indonesia (atau bahasa Indonesia itu sendiri yang “dibanjiri” istilah asing dalam dunia teknologi. Bukankah kita pun sedang “menikmati” produk teknologi tersebut sebagai karya manusia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s