Sebuah Senyuman di Nurul Aby

SL372814editedMinggu pagi yang cerah, matahari hangat sekali, tidak begitu sakit di kulit. Tak terbayangkan jika akhirnya akan menemukan rasa bahagia yang maha dahsyat. Subhanallah….., diantara deru laju masyarakat yang bimbang memikirkan perut, menimbang waktu dengan harga mahal, menghabiskan detik-detik terakhir dengan ribuan kesenangan karena terkuras oleh deadline yang tak pernah habis, saya sempatkan untuk berkunjung di sebuah panti asuhan  kecil di tengah kota Malang. Panti asuhan Nurul-Abyadh.

Di panti asuhan itu saya merasakan getaran kasih yang luar biasa. Senyum anak-anak  yang mengembang membius saya pada nuansa tertentu. Candanya membungkam sebagian waktu, melewati lorong masa lalu, mengenangkan saya pada sesuatu yang telah saya simpan pada peti emas.

Allah sudah memberikan sesuatu yang lebih pada diri saya, orang tua yang lengkap, kasih sayang yang melimpah dari ibu bapak, bermanja-manjaan di pangkuan kakek nenek. Tak pernah ada ganti hitungan rupaih untuk anugerah tersebut.

Bagaimana jika saya jadi mereka? Menanti detik detik jarum berlaju tanpa hangatnya tangan orang tua. Sempat hati saya tergelitik, mendengar penjelasan pak Imam tentang keadaan panti asuhan ini. “Bapak…., saat ini saya hanya bisa menyumbang dengan tenaga dan sedikit pikiran. Doakan suatu saat nanti saya mampu memberikan hal yang lebih kepada mereka” begitulah hati saya berteriak-teriak, menggaung-gaung, menggema memenuhi seluruh relung hati saya.

“Sebagian harta kita adalah hak mereka” ini adalah hadist yang sempat Pak Imam sampaikan. Saya termenung sebentar meresapi kalimat tersebut. Terpintas dengan nasehat seorang pemimpin di tempat bekerja saya dulu, bahwa “semua yang kita miliki hakikatnya adalah titipan, pinjaman saja, kita tidak memilki apa-apa”.

Saya sedikit terperanjat ketika seorang ibu yang duduk di samping saya men”njawil” bahu saya. “Jeng… tolong microphonenya” sapanya pelan. “Oh… injih bu” sahut saya seraya memberikan microphone. Beliau adalah seorang pengajar di sekolah farmasi di kota ini, dia juga pengisi acara jendela hati di RRI kota Malang. Dari gaya bicaranya “hemm” mengimpan semangat yang luar biasa. Menyoroti setiap tingkah polah panti asuhan ini, memberikan dorongan kepada para uztadah agar lebih ngajeni lan ngopeni terhadap apa-apa yang ada di sini.

21 thoughts on “Sebuah Senyuman di Nurul Aby

    • @kawanlama: iyah kawan
      @blogger senayan :oke monggo
      @ontohod : benar mas onto
      @achoey ; wedew mie jandanya udah punya rumah sendiri…. com lagiii… mantabbbb

  1. “Bagaimana jika saya jadi mereka? Menanti detik detik jarum berlaju tanpa hangatnya tangan orang tua” saya suka kalimat ini sangat mengena..:-D

    -salam- ^_^

  2. Nice post,

    Betapa keberuntungan kita masih sangat kurang disyukuri. Seringkali kita terlalu melankolis pada diri sendiri.

    Jalur aktualisasi rasa syukur, salah satunya dinyatakan dalam perbuatan riil, yaitu memenuhi kewajiban mendermakan harta sesuai garis agama.

    Ada hak orang lain dalam harta dan kemampuan yang dititipkan, maka kewajiban kita untuk menyampaikannya.
    InsyaAllah, tiada yang berkurang, kecuali berkurangnya dosa kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s