Terakhir

Seperti mimpi terakhir bertemu denganmu
Aku mencoba untuk tersenyum
Waktu kau bilang “kamu pasti bisa mandiri sendiri”
Adalah sebuah ironi
Ironi yang menjadi kiasan kata “berhenti sampai disini”

“Lupakan kenangan kita”
Aku tersenyum kembali
Sebuah coklat kulumat untuk menahan tetesan air mata
Jangan sampai engkau sedih melihat air mataku
Sengaja kumenundukkan muka…
Mencari kesunyian sekejab
Membuang jauh mimik gundah

“Berpisah untuk selamanya”
Seperti mimpi aja rasanya
Secepat kilat ku ingin tersadar
Bukannya hilang tapi tak mau pudar
Sekiranya logika ini tak kuasa menembus rasa

Di dalam pelukmu tetes air mataku mengalir
Mengalir bersama peluh kerinduan
Segera kuhapus… dan tersenyum kembali
Tanganku erat mencengkeram
dan “Jangannn……. menjauhhhh”

9 thoughts on “Terakhir

  1. Saya tertarik sekali dengan masalah budaya, apalagi generasi sekarang mulai tergerus dengan budaya pop, oleh karena itu saya mencoba membahas dan melestarikan salah satu budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia. Mohon masukan dan dukungannya, makasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s