Bertemu di Mimpi

Hari ini bener sunyi, kakak yang selalu membuat aku tertawa terbang ke jawa. Suara tikus yang saling berkejaran menjadi penghias dalamnya malam. Kubuka tirai jendela, mengintip gelap di luar sana. Hanya lampu jalan yang terlihat berkelip, mengkerlingkan cahayanya, mengetahui mataku mengintip tanpa kedip.

Tak kusadari aku menguap berkali-kali. Kelopak mata ini rasanya terbandoli oleh mas beratus ratus gram, sepertinya tak mau di buka lagi. “Huammmm………” aku menguap dan tak sadar pesawat tidurku telah meluncur ke galaksi mimpi yang tak terbatas.

Semua begitu sibuk dengan tugas masing-masing, janur kuning yang tersusun rapi telah menghiasi gapura rumah. Ada apa ini? Mak Tati, tetangga sebelah kulihat berteriak-teriak kepada segenap dayang ”Manten dan pengiringnya sudah datang….. manten dan pengiringnya sudah datang…..!!” melirik pada kaca jendela, ternyata wajahku sudah berubah layaknya seorang ratu waktu itu. Gaun jawa yang begitu cantik dan elegan membalut tubuhku.

”Cah ayu bakal suamimu wis teko” tutur mbok Sri. Membisu merunduk syahdu, aku masih belum sadar dengan apa yang terjadi. Jantung ini tak mau lagi di kendalikan. Alunan musik jawa mengalun syahdu, iya ini kebogiro yang tak lazim ditelingaku karena sering aku putar di winamp. Aku di arak untuk menemui mempelai laki laki di depan gapura. ”Mengko yen wis idek karo kloso, sirih iki di balangke nang sing lanang yo cah ayu” mbok Sri memberikan segulung kecil sirih yang di tali dengan benang. Ku genggam erat hingga tanganku berkeringat.

Seorang pemuda nan gagah berdiri di depan sana, aku memandangnya sekejap. Dia menatapku tajam MasyaAllah raut muka yang begitu aku kenal, sebuah tanda di wajahnya yang membuatku tak bisa melupakannya. Seperti melayang aku, antara iya dan tidak. Apa ini?…”

Tititit….tititit… Suara alarm, mengelus telingaku. Membangunkan aku dengan sengatan suara. Aku terdiam, mataku masih terpejam, tetapi hatikutelah terbangun. “Apa yang barusan terjadi….” tanganku meraba sana-sini. Kutemukan boneka bunbun pemberian sahabatku, selimut dan guling.  Mataku masih terpejam, berat untuk membuka,nya seakan-akan tak mau meninggalkan apa yang baru kualami. Kutarik nafas dalam-dalam, “Astagfirullah…..” kataku dalam hati seraya mengatur jeda aliran udara yang keluar dari hidungku. Pelan-pelan kubuka mataku, masih sedikit gelap tetapi dapat kurasakan udaranya lembab dan sejuk.

3 thoughts on “Bertemu di Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s