Ibu

Tak pernah ada yang bisa menggantikan seberapa besar cinta ibu kita kepada anaknya. Seberapa besar cinta ibu saya kepada saya, tak terperi. Ibu adalah seorang yang sangat memberikan kontribusi yang sangat besar dalam hidup saya.

Ibu saya seorang yang bisa dibilang keras(mungkin beliau di didik oleh seorang militansi tulen yang dulu ikut berjuang melawan penjajah), disiplin, semangat, tekun belajar tetapi penuh kasih sayang. Beliau ini gak tegaan sebenarnya, hatinya sangat darmawan. Orangnya sangat tekun dalam menjalankan ibadah…. doa doa ibu adalah ridho Allah.

tulisanria wacanaTak pernah ada kata bangun siang di kalo sudah tinggal di rumah. Sewaktu masih belum punya adik saya selalu inget jika jam jam mendekati subuh bapak rutin menimba air dan ibu sudah menanak nasi untuk kami. Jika ada yang tidur bangun kesiangan maka jangan kaget kalo air minum (banyu ceret istilah jawanya) sudah ngucur dimuka kami. Gak perduli kasur harus basah kuyup dan hukumannya yang bangun tidur kesianganlah yang menjemurnya. Tangan-tangan disiplin inlah yang membentuk kami (anak-anak ibu) adalah pribadi yang ibaratnya wani urip soro. Tetapi bukan berati kita harus hidup susah, bukan! Jika keadaan sulit menghadang kami, maka kami tak akan pernah kaget.

“Matematika sebelum tidur” ini adalah salah satu semangat ibu untuk mencetak kami menjadi ahli kompetisi yang tangguh. Ibu tidak ada biaya untuk memprivatekan kami di sempoa atau primagama. Selain itu gak tega karena jarah tempat private begitu jauh (rumah kami di dosa setengah jam dari pusat kota). Sebelum tidur saat TK belajar menghitung, SD sampai kelas 3 maka rutinis saya sebelum tidur adalah menghafal perkalian dasar katanya ibu sampai “nglontok”.  Hahaha…. Belajar setelah sholat tahajud (tengah malam) adalah ajaran dari bapak ibu kami. Kami (kakak. saya, adik2) adalah orang-orang yang tak luput menerima gemblengan itu. Jangan salah kalo kakak saya adalah juara lomba matematika, saya sendiri ikut kompetisi matematika, adik saya yang bungsu adalah alumnus juara olimpiade fisika tingkat jatim.. setiap prestasi adalah kerja keras.

Meskipun bapak, ibu seorang yang berpendidikan minim, tetapi beliau tak pernah berhenti menyemangati saya untuk belajar,belajar dan belajar.  “Udah belajar belum, PRnya dapet berapa?” hehehe…. meski gak di marahin tetapi ketika saya tidak bisa memberikan nilai yang terbaik saya merasa bersalah. Dan perasaan inilah yang saya idap hingga saya besar.

Oh ya, waktu yang lalu ibu bapak harus mengahadiri undangan wisuda. Pada acara wisuda tersebut ada beberapa acara sambutan salah satunya adalah ketua yayasan dan ketua kopertis II dari Palembang.  Keduanya adalah alumnus universits di Amerika dan Australia… beliau bilang “nanti kamu juga bisa seperti itu“.  Saya hanya tersenyum dan berfikir “betapa besarnya pemikiran kedua orang tua saya… cita-citanya melebihi cita-cita saya”. Jangan pernah takut untuk mengukir prestasi.

Ibu adalah orang yang tak pernah absen untuk sholat tahajud, jika adlah masalah mukena dan sajadahlah pelariannya. Jika bahagia tasyakuran akan meramaikan rumah kami yang sederhana di desa… Perihal yang sederhana dan kita bisa.

ah….lembaan-lembaran wordpress ini tak akan pernah cukup untuk kenangan saya pada orang tua khusunya ibu. Love u ibu

One thought on “Ibu

  1. Pingback: Web Blog seger » Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s