Kontrakan L. Adi Sucipto

Hanya lambaian angin yang menyapa, udara dingin kering, tenggorokan masih meradang. “Hem… hemm” berusaha mengambil posisi suara yang enak di dengar. Termangu duduk memandang rembulan sabit yang hampir punah oleh awan. Mataku tak berkedip, bening menatapnya, meski ujung kakiku menahan gigitan semut. ”Aduh…..!” seraya ku jejakkan kaki kanan ku ke lantai agar semut itu terpelanting dari kaki.

 

Tatapan mataku beralih ke lalu lalang kendaraan. Tak ada secelah nafaspun untuk berhenti. Entah bagaimana teriak jalan itu jika dia mampu bersuara, yang tiap hari tertindis ban muatan ringan hingga muatan berat.

 

Setiap malam berjalan menenteng laptop dan merangkul binder yang berisi ejaan ejaan kalkulus hingga artificial inteligen yang begitu ngetren di telingaku saat itu, sampai-sampai aku tidak tau bagaimana harus melogika mata kuliah ini hingga bener-bener kupamahi. Atau mungkin hanya ekspresi tubuh miringkan kepala ke kanan tahan dengan tangan kanan kemudian bilang ”aku ra dong!”

 

Tak sulit untuk menemukan mie ayam ceker nan lezat dengan segelas es beras kencur apabila perut sudah krucuk-krucuk. Cukup tiga rumah dari kontrakan kemudian menerobos sebentar diantara lalu lalang kendaraan. Bahkan seringnya makan disitu dengan kesendirianku menikmati hisapan sumsum tulang ceker nan lezat. Tak pernah kuperdulikan siapa-siapa pengunjung yang memperhatikanku makan.

 

Rumah Allah ini terhimpit diantara bangunan-bangunan yang ada. Suara adzan yang bergetar membangunkanku disela sela kertas dan kabel. Bahkan saat aku bermimpi dengan selimut, bergulat dengan bantal. Kedekatannya hanya berjarak satu jangkah menambah nyaman ketika menikmati suasana rumah asri nan sederhana.

 

Kadang kurindukan temen-temen yang sering berkumpul membahas masalah yang tidak terlalu populer hingga gosip artis yang paling baru. Ila temen sohib yang menemani detik malamku dengan dongengnya dan kecerobonnya yang kadang membuatku kangen juga. “mbak tau kunciku tah…” sambil lari terbirit-birit takur kesiangan masuk kantor. Aku ngekek aja karena melihat dia pegang kunci dari tadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s