Pertemuan Pertama

Di kala itu tes sudah usai, pengumuman sudah di buka lebar-lebar dan benar-benar aku ketrima. Bimbang…
————————————————————————————
“Besuk harus pemberkasan?”
“Aku gak bisa, jadwal ngampus n ngajarku full….”
“Terakhir Kamis ndul…iku wis gak penting” seraya kakak menutup telpun lagi. Aku sewot, ngluyur begitu saja.

————————————————————————————–
sedikit bingung dengan berbagai macam pertimbangan, konsultasi ke bapak ibu dan kepala sekolah sudah dilakukan.
“Kalo misal di wakilkan bisa ndak yu…?”
“Ndak tau nanti tak telpunkan.”
—————————————————————————————
Sebentar kemudian telpun berdering lagi.., saya sedang bercanda dengan murid-murid yang curhat tentang pacar-pacarnya.
“Bisa…””kirim berkasmu secepatnya ijazah yang sudah dilegalisir segala…”
—————————————————————————————
Malam itu kutinggalkan semua perkara sekolah dan anak-anak. Aku mulai mempersiapkan semua dokumen dan segera mengirimkannya ke Pulau Sebrang. Saya tau disana Yu udah mundar mandir kesana-kemari.
————————————————————————————–

“Yu gmn berkasku…?”
“Udah tak serahkan tetapi kamu harus datang sendiri…?”
“Ya ampun……””
“Biar aku yang bialng ibu bapak…”
“Ha… ndak usah…..”
————————————————————————————–
Telpun berdesing kembali ketika aku di JH, sedang bercanda sama adik, kangen sekali karena lama gak ketemu.
“Dengan  mbak ria ya…”
“injih bu…..”
“Lo orang jawa kah?”
“ini dari …. besuk mbak harus datang?”
“saya masih di jawa bu…”
“kalau begitu maksimal senin mbak harus sudah ke kantor…”
“iya bu”…. badan saya langsung panas dingin menjawab semua itu.
—————————————————————————————-
saya kira ortu dirumah sudah pada tau… huammmmm…… Semalaman gak bisa tidur, karena harus memikirkan, kok bisa ya aku kesana…. kok bisa ya…. hahhh….. Masih belum terbayang meninggalkan kampung halaman yang membesarkanku dan mendidikku hingga seperti sekarang ini, apalagi sekarang kuliah belums elesai lagi. T_T Entahlah….

Telpun dari rumah, dengan berat aku angkat…
“Kapan pulang…”
“Besuk….. bu….”
“Kalau bisa sekarang….”
“belum beres2 kontrakan…”
“gampang itu….”

Sedih, haru sedikit senang juga…. aku pulang naik kereta api jadwal jam 3. Mungkin inilah aku terakhir kalinya naik kereta……
——————————————————————————————

Sesampai di rumah…
“Tiket udah tak belikan….” bapak tersenyum
“Hem….” aku masih muram
——————————————————————————————-
Hari sabtu, “badanku lemas tak bergairah”… bapakku membawaku ke dokter, tensiku turun..
“Habis ini beli bebek…. biar di masak sama ibu”
Padahal aku nggak sakit, aku hanya shock….!

“Disana juga seperti kota dimana kamu sekolah dan kuliah, banyak temen nya, jangan kuatir dan kamu bisa sering pulang juga” bapak cerita kepadaku.

“Iya” kering kataku.
———————————————————————————————-
“Cepet berangkat nanti kalo ndak kerasan biar ibu yang ngurus pindah….”

Menangis sambil pamitan….
———————————————————————————————–
Kiranya pukul 19.oo WITA aku sampai ke rumah Yu…. sudah ada air hangat sama ayam penyet…
“kok masih cemberut… mandi sana!”
“iya”
“sudah cepet…., knp lagi, pisahan sama pacarnya…., ”
“ndak punya pacar…”
“la terus……”
————————————————————————————————-
Makanan ini rasanya masih setengah,
“Aku nduwe konco… maukah tak kenalin…..?”
“Sopo yu….”
“Koncoku ndek kantor….”
“WEGAH”
————————————————————————————————-
Kata yang sederhana ku ucapkan…

5 thoughts on “Pertemuan Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s