20122012

Rabu pagi (12 Desember 2012) itu, hanya sembaring mendengarkan tv di kamar sambil mainan tab, membaca artikel sana sini tentang kehamilan, maklum kehamilan sudah mulai membesar dan rasanya dalah some thing. Tak ada yang kuinginkan kecuali beli daster yang cantik. Itu terbersit dari hari senin. Cuti seharusnya bukan alasan untuk segera membeli. Ingin berangkat sendiri, mataharinya rasanya diubun-ubun pukul sembilan sajah, sedangkan departement store bukanya jam 10.00 WITA diatas.

Merayu suami adalah tindakan yang top bgt, sebagai usaha mencari daster.

“Dasterku jelek” gumamku sambil mulutku mecucu kayak siput
“Terus…..!!!” saut dia tak memperhatikan aku, sibuk dengan bb nya.
“Tusmbasno dasterna”sambil cubit pundaknya… Dia menoleh tersenyum dan memelukku. Dalam bahasa jawa tumbasno sama artinya dengan belikan. Sedangkan daster itu mirip pakaian tidur yang longgar sudah tau kan
“Kan dasternya udah banyak” jawab suami..
“Yahhh….” Aku berbalik dari arahnya.

Begitulah yang kami lakukan ketika sedang mengambil cuti bersama, baring-baring ditempat tidur adalah hal favorit yang sering kami lakukan.

————

Pagi itu (13 Desember 2012) udara tidak begitu panas, bisa dibilang hangat dan nyaman. Pagi itu kami putuskan untuk jalan-jalan menemui pak tukang yang akan membangun emperan (beranda) depan rumah. Kita cari di jalan Bougenvil ternyata sudah sepi orang, gak ada kesibukan disana. Saya meminta suami untuk berkeliling di sekitar perumahan situ. Memang semua sama saja, tetapi saya menyukai taman, dingin dan teduhnya tempat disitu. Ternyata banyak sekali rumah yang kosong, terlihat jika rumah itu tidak terawat, lampu masih di nyalakan tetapi yang bagian depan sajah.

Selepas  dari situ, kami berniat mencari tempat tinggal pak tukang yang baru, dia tinggal di salah satu gang dipusat kota.  “Kita cari sampai dapat ya….” kataku waktu itu. “Iya” sambil bergumam dalam hati, aku pingin daster. Setelah mencari kesana kemari akirnya ketemulah rumah pak tukang. Rumahnya berada di bantaran sungai jadi kalau kita mau kesana harus turun beberapa tingkat, dengan kecuraman yang cukup melelahkan bagi bumil. “Ayo, itu motornya” ajak suami. Saya hanya bergumam dalam hati, ini lo turun, nanti naeknya aku capek sambil mengikuti langkahnya. Dia menggonceng tangan saya sampai menuruni anak tangga terakhir. Momen yang sepele seperti itu membuat rasa sayang saya hihihihihi.

Setelah percakapan sana sini, membicarakan kapan pak tukang bisa kesana untuk mengukur, masalah kayu yang dipakai, atap yang harus dibeli, akirnya kamipun segera pamit pulang. Saya tidak ingin mendiskripsikan bagaiman keadaan rumah pak tukang yang dibantaran sungai, tetapi ada satu ungkapan yang ingin saya utarakan “istri pak tukang adalah orang yang nrimo, dibuatkan iyupan yang mungkin bagi kita maaf kurang enak di tempatin tetapi dia nrimo, aku harusnya bersyukur suami sudah memberikan tempat berteduh yang membuat kami tidak kepanasan, nyaman, tidak kehujanan  dan semuanya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s