Wayang Kulit

Wayang kulit salah satu kebudayaan tanah jawi yang sangat tinggi nilai kualitasnya. Saya belum bisa membayangkan bagaimana awalnya dulu, pada zaman belum modern peradaban jawa sudah memiliki pemikiran, teknologi, filsafah yang begitu agung dirangkai menjadi kesenian wayang kulit.

Pemikiran?
Iya pemikiran, bukankah wayang kulit adalah seni drama klasik, coba perhatikan ada alur cerita, karakter, tokoh (arjuna, puno kawan, werkudoro dll), setting (tempat digambarkan oleh gunungan).
Teknologi?
Bisanya ya… memadukan alat musik sekian banyak sehingga menjadikan satu kesatuan yang rancak. Gong, Kenong, Gendang dan kalau dibandingkan dengan seni musik  daerah lainnya, ragam alat musik pengiring wayang kulit (juga musik jawa) itu banyak sekali. Pembuatan alat musik tentu sudah menggabungkan berbagai macam pengetahuan hingga terbentuk suara yang indah.
Filsafah?
Cerita yang diungkapkan dalam sebuah pertunjukan wayang kulit sangat sarat makna, banyak petuah petuah yang dapat kita ambil dari pertunjukan itu.

Wayang kulit yang digelar hari Sabtu, 31 Agustus 2013 (pas ultahnya yang nulis ^___^, ultahku ampe dimeriahkan segitunya) menceritakan tentang keadaan Ngastinadipura yang para petingginya sudah lupa dengan nilai2 luhur. Keduniaan, kekuasaan dijadikan hal utama sehingga lupa akan ada hal yang lebih Utama. Bahkan pada akhirnya hal yang lebih Utama hanya dijadikan syarat dan simbol saja.

Gamelan Wayang Kulit, Dalang "Ibu Sri Mulatsih"

Gamelan Wayang Kulit, Dalang “Ibu Sri Mulatsih”

Penonton Pagelaran Wayang Kulit "berjubel"

Penonton Pagelaran Wayang Kulit “berjubel”

"Ibu Sri Mulatsih" Dalang Wadon Dari Solo

“Ibu Sri Mulatsih” Dalang Wadon Dari Solo

Aku hanya mbayangin susahnya membuat alat musik gamelan dari seperti ini.

Saya lihat penonton begitu antusias, bahkan samapai malam, anak-anakpun betah melek” demi melihat wayang kulit. Ini lohh budaya punya kita bukan  koboy junior ajah.  Kalo bukan kita siapa yang akan mengerti? Oh ya cerita dikit nie, dulu waktu aku kecil pernah ikut karawitan, ni acara karang taruna di desa. Sampai aku ngerti pakem-pakem tembang jawa. Meski suara gak semerdu sok imah, tapi kan ngerti hihihih..
Bahwa menyanyikan lagu tembang jawa itu lebih sulit dan paling sulit di bandingkan lagu2 yang lain. Cengkok annya, nadanya… Pokok e susah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s